
'kapan yah bisa bertemu beliau'. Selama ini saya hanya mendengar dari kata orang, kini saya mau melihatnya dengan mata kepala saya sendiri.
Dan akhirnya kesempatan itu tiba juga.
Dalam pelayanan di Natal GBI Agape Bandung 19 Desember 2008, kami bertemu. Waah..ternyata yang dikatakan orang-orang memang benar.
Luar biasa sekali talentanya.
Mendahului kesaksiannya dengan bernyanyi, (dan ternyata suaranya juga bagus banget, sangat black), dan setelah bernyanyi, beliau mengeluarkan dari kantongnya, sebuah benda. Teman-teman tahu...???
Yah seperti julukannya, beliau mengeluarkan sisir yang dibungkus plastik. Ketika ditiup, suara yang keluar adalah persis sekali dengan suara saxophone. Hampir nggak ada bedanya. Ajaib kan? Kayaknya beliau adalah satu-satunya orang di muka bumi ini yang dapat melakukannya.
Dengan kemampuan beliau berimprovisasi, jadilah alunan melody yang kita dengar layaknya seperti alunan saxophonenya Kenny G.
Bener loh, saya nggak hiperbola.
Really, really like a saxophone.
Waktu itu di team musik ada pemain sax juga, dan hampir nggak bisa dibedakan outputnya.
Bener-bener sama.
Rasanya malam itu, dari ribuan orang yang hadir, nggak ada yang nggak terkesima memandang beliau. Dan yang lebih luar biasa lagi,
that extraordinary talent dipersembahkan untuk Tuhan. Malam itu saya sangat berbahagia sekali bisa menyaksikan beliau.
Menyaksikan seseorang yang create cara baru memainkan/menghasilkan musik. Menyaksikan seseorang yang melipatgandakan talentanya, dan Tuhan dimuliakan.
YOHANES

Memberi dari kekurangan itulah yang dilakukan Yohanes.
Handicap buta tidak membuat Yohanes patah semangat, bahkan ia melipatgandakan talentanya jauh melebihi orang-orang yang normal.
Saat memainkan keyboardnya juga sangat all out, expresif sekali.
Liat aja di fotonya, kepalanya bergoyang-goyang sampai hampir menyentuh keyboard.

Adalah suatu anugrah saya bisa bertemu dengan Yohanes, doa saya teman-teman juga diberkati. Mari melipatgandakan talenta yang Tuhan percayakan lebih lagi di tahun 2009.
TALENTA MENGUCAP SYUKUR

Ternyata warisan Bpk Budi kepada keluarganya yang paling utama adalah 'selalu mengucap syukur dalam segala keadaan'. Itu saya alami dan rasakan dalam perjumpaan saya dengan istri beliau, yaitu ibu Yani yang kami undang untuk menyampaikan kesaksian hidupnya di Natal GBI Menteng.
Ibu Yani adalah sosok yang selalu belajar mengucap syukur dalam segala keadaan. Beliau mengatakan, itu yang nilai-nilai yang diwariskan suaminya saat masih ada di dunia ini.
Saya menjemput beliau keesokan harinya seusai pelayanan Natal di sebuah gereja di Bandung. Ternyata perjalanan Bandung-Jakarta keesokan harinya penuh dengan kekacauan. Semua jadwal travel sudah overbooked, kemudian ketika akhirnya diterima oleh travel lainnya, dalam perjalanan menuju poolnya di daerah Soekarno-Hatta, nggak tahu kenapa siang itu Bandung macetnya minta ampun. Saya panik sekali, karena acara Natal di Jakarta akan dimulai jam 5 sore. Ternyata sampai di pool, kami sudah ditinggal, karena terlambat 10 menit. Waduuh... di siang hari yang terik itu rasanya pikiran sudah mau meledak. Akhirnya dapat juga seat untuk perjalanan berikutnya, dengan estimasi nyampai di Menteng waktunya pas-pasan banget. Sudah lega di dalam mobil, saya baru menyadari ternyata Ipod yang saya gunakan untuk berlatih menjelang malam Natal kemaren hilang.
Nggak ada di dalam tas saya. Dan yang paling parah, Hp saya mati total karena my battery is dead, dan nggak bawa charger lagi. Nggak bisa kontak siapapun untuk minta pertolongan. Hati dan pikiran saya saat itu sudah seperti nano-nano. Sambil berkata dalam hati "saya salah apa Tuhan... saya salah apa..". Saya sudah berada dalam keadaan terdakwa berat dengan segala ketidakenakan yang saya alami siang itu. Kemudian ibu Yani dengan lembut berkata: "Ibu, ... mengucap syukur saja. Di balik semuanya pasti Tuhan punya rencana yang baik."
Seperti siraman air yang sejuk, perkataan ibu Yani melegakan hati saya.
Luar biasa kehidupan yang selalu mengucap syukur dalam hidup beliau. Sungguh menjadi berkat bagi orang yang disekitarnya.
Dan belakangan, pengucapan syukur saya saat itu tidak sia-sia.
Terbukti, di awal Januari 2009, seorang teman yang ikut ke ministry di Bandung waktu itu, kontak saya dan mengatakan dia yang menyimpan dan mengamankan ipod saya. Waktu itu dia melihat ipod saya tergeletak tak bertuan.
Tuannya sedang sibuk fokus latihan buat acara malamnya.
Waah...coba waktu itu saya bersungut-sungut, tentu sukacita saya saat mendengar berita ini akan terkontaminasi.
Tuhan mengasihi orang yang senang bersyukur. Terbukti dalam perayaan Natal di Menteng, ibu Yani bersaksi bahwa sepeninggal suaminya, mereka selalu dipelihara Tuhan, sehingga bisa hidup dengan baik hingga saat ini. Membesarkan Aldo yang tuna rungu, mereka tidak pernah terlantar. Selalu saja ada orang yang digerakkan Tuhan untuk menolong mereka.

Budi, masuk list 'people who I want to meet in heaven' dari Bpk. Timotius Arifin. Saya juga kelak di surga pengen ketemu Bpk. Budi dan menyatakan, tak ternilai mahalnya warisan yang dia berikan kepada orang-orang yang tak pernah dilihatnya seumur hidupnya.
Melalui tulisan ini, besar harapan saya kita nggak berhenti hanya menjadi seorang penonton dan pengagum belaka dari orang-orang yang sukses menggandakan talentanya. Biarlah kita juga menjadi orang-orang yang rindu mengembangkan talenta kita. Lebih banyak lagi orang-orang yang diberkati melalui hidup dan pelayanan kita.
Mungkin ini juga bisa menjadi salah satu resolusi di tahun 2009,
yaitu multiplying our talents.
Selamat melipatgandakan talenta di TAHUN BARU 2009.
All Blessings,
Julita Manik