Monday, August 17, 2009

"How can I not love Indonesia?" (GOD)



Banyak yang mengenal saya sebagai songwriter yang menulis lagu-lagu series Bapa, "Seperti BAPA Sayang Anaknya", atau "BAPA Yang Kekal", tapi sesungguhnya jauuuuuh sebelum series itu saya pernah menulis lagu series lainnya, yaitu yang bertemakan Indonesia.
Bahkan lagu saya yang pertama kali direkam adalah bertemakan cinta Indonesia.

Kalau tahun '90an teman-teman sudah lahir baru dan eksis di PD-PD pasti pernah dengar lagu ini,

"Yesuslah Tuhan, yang layak ditinggikan / Layak disembah oleh suku-suku bangsa...
Dengan darahMu Kau telah tebus bangsaku / Genapi Tuhan FirmanMu atas neg'riku
Hatiku rindu melihat kemuliaanMu / Hatiku rindu melihat curahan kuasaMu
Di tanah tercinta, neg'riku Indonesia
Kuberdoa Indonesia penuh kemuliaanMu / Indonesia bagi kemuliaanMu"

Judul lagu ini adalah : INDONESIA BAGI KEMULIAANMU

Kenapa sampai bisa tulis lagu ini?
Yang saya tahu pasti karena Tuhan Yesus mengasihi Indonesia.







Waktu itu saya masih mahasiswa, dan berada dalam komunitas orang-orang percaya yang sangat cinta Indonesia, yang tiap kali ketemuan pasti berdoa untuk Indonesia. Tapi saat itu nggak pernah terbersit keinginan untuk tulis lagu tema Indonesia.
Sampai suatu tengah malam, di kamar saya sedang menyembah Tuhan, tapi hati rasanya kok nggak tenang.
Saya letakkan gitar, dan saya ke ruang tengah menyalakan TV. Teman-teman kost sudah tidur semua.
Saya sendirian di ruangan itu. Dan mata saya menatap suatu program TV yang menayangkan aneka suku di Indonesia, yang tetap satu walaupun berbeda-beda. Beda bahasa, beda adat istiadat, beda kebiasaan, tapi bisa bersatu dalam perbedaan. Saya memandang kepada suku-suku yang begitu banyak dan.....

Tuhan bicara... dengan segera saya bergegas ke kamar kembali, mengambil gitar dan dan mulai menyanyi.
Nggak lama kemudian terciptalah lagu "Indonesia Bagi KemuliaanMu".
Kelak, ... banyak orang yang bersaksi bahwa mereka dibangkitkan kembali beban jiwa-jiwanya melalui lagu ini. Bahkan saya ketemu hamba-hamba Tuhan yang menyaksikan bahwa mereka dikuatkan untuk menyerahkan hidupnya melayani Tuhan sepenuh waktu melalui lagu ini.

Friends, jujur, lagu ini nggak ada kehebatannya. So simple, chord progressinya juga sangat biasa banget.
Tapi kasih Tuhan untuk Indonesia yang sangat luar biasa. Dengan berbagai cara (salah satunya melalui lagu) Tuhan memanggil dan membangkitkan orang-orang yang mau maju berdoa membela bangsa ini supaya tidak dibinasakan tapi beroleh hidup kekal. Karena sesungguhnya Tuhan ingin tidak ada seorangpun yang binasa.

(Untuk bahan renungan, mungkin kita juga adalah hasil doa dari orang-orang yang lebih dulu percaya, dan mau memberi waktu mendoakan yang lainnya yang belum diselamatkan.)


"HOW CAN I NOT LOVE INDONESIA ? "  (GOD) 




Lagu kedua tentang Indonesia yang saya tulis adalah:
"BAGAIMANA TIDAK TUHAN 'KAN SAYANG"

Waaaah....kok judulnya panjang banget. Waktu itu saya kompromi untuk merevisi judul lagu ini menjadi "KAU TERLEBIH RINDU", tapi sebenarnya saya lebih sreg dengan judul pertamanya.
Karena judul lagu tsb sangat berkorelasi dengan inspirasi penulisannya, yaitu dari satu ayat di Alkitab, yang semakin mencelikkan hati saya betapa Tuhan sangat mengasihi Indonesia.

"Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?" 
(Yunus 4:11)


Dasar perenungan saya saat itu, .....
kalau Niniwe, negeri yang tidak percaya Tuhan, dikasihi Tuhan begitu rupa, sampai mengirimkan Yunus ke sana untuk mempertobatkan mereka, apalagi Indonesia, yang penduduknya bukan hanya 120.000 tetapi ratusan juta jiwa?


"Bagaimana tidak Tuhankan sayang , pada Indonesia bangsa yang besar
Jutaan jiwa-jiwa di neg'ri ini, yang menantikan kes'lamatan dari padaMu
Kau terlebih rindu, Kau terlebih rindu, 
Kau terlebih rindu, Kau terlebih rindu, 
Untuk tegakkan kebenaranMu, kemuliaanMu di atas Indonesia
 

Ketika lagu ini sudah direkam, beberapa kali saya menjadi bahan tertawaan (mungkin lebih tepatnya candaan) teman-teman saya. Karena masa itu bang Rinto Harahap lagi ngetop-ngetopnya sebagai pencipta lagu sekuler di Indonesia, yang punya ciri khas, setiap lagunya pasti ada kata ".....sayang".

Jadi mereka menyanyikan lagu saya dengan stressing seperti lagunya bang Rinto. Lagu yang seharusnya dinyanyikan seperti ini, ....

"Bagaimana tidak Tuhankan sayang...."
diubah menjadi gaya bang Rinto    "Bagaimana tidak Tuhankan .........,   sayang...."
See the difference? 

Emang sih, jadi lucu, dan aduuuh..... sempat saya merasa malu
menuliskan lagu ini.
Tapi kemudian hati kecil saya bicara.... Ini lagu kan pernyataan kasih Tuhan kepada bangsa ini yang saya dapatkan saat saya berdoa dan menyembah. Kenapa malah saya jadi malu?
Kasih yang membuat Yesus mau menukar kemuliaan dengan kehinaan, dihina, disalibkan dan mati demi menyelamatkan semua manusia?
Bagaimana bisa Yesus mengabaikan bangsa yang besar ini?
Bagaimana bisa Tuhan tidak mengasihi bangsa ini?

Kepala saya menjadi tegak lagi. Saya tidak termalu-malu lagi.
Saya mau menjadi perpanjangan lidah Tuhan, perpanjangan tangan Tuhan, untuk menyatakan kasihNya bagi bangsa ini.


LACK OF COMPASSION





Tuhan tidak bekerja sendirian. Tuhan butuh partner.
Syarat bagi partnernya, harus punya belas kasih atas jiwa-jiwa yang terhilang, punya compassion.
Tapi ternyata hari-hari ini banyak anak-anak Tuhan yang lack of compassion. Kehilangan belas kasihan. Melayani sih melayani, tapi tidak didasarkan atas belas kasihan jiwa-jiwa.

Hanya serangkaian aktivitas.

Saya nggak menuding orang lain. Saya menunjuk diri saya sendiri.

Saya menyadari saya mulai kehilangan compassion. Dan saya perlu cepat-cepat berbalik. Kalau tidak pelayanan saya hanyalah topeng belaka,
hanya pelayanan Farisi.
 

Dulu banget, saya masih ingat, belas kasih itu besar sekali menguasai hati saya. Sehingga mengingat orang yang perlu didoakan saja air mata sudah merebak.
Saya orang pertama yang lahir baru di keluarga saya. Dan dalam tiap doa saya, saya menangisi mereka dan mengingatkan mereka kepada Tuhan supaya mereka juga diselamatkan.
Supaya mereka, entah dengan cara bagaimana, bisa membuka hatinya kepada Tuhan.
Waktu papa saya dipanggil Tuhan, sepanjang perjalanan dari Bandung ke Medan, saya menangis karena membayangkan papa saya belum diselamatkan. Saya sangat remuk hati dan menyalahkan diri saya.

Sampai di depan jenazahnya saya menangis dengan keras menyesali kenapa tidak ada kesempatan bagi papa. Tapi kemudian saya diberitahu bahwa beberapa waktu menjelang kematiannya ada seorang hamba Tuhan yang melayani papa dan papa telah lahir baru. Baru saya bisa bersukacita dalam kesedihan saya.

Itu dulu. Dulu. Sekarang, masih ada anggota keluarga kami yang belum diselamatkan, tapi saya nggak seperti dulu lagi membelanya di hadapan Tuhan. Tidak dengan sekuat daya, pikiran dan tenaga saya.

Tidak seperti dulu lagi.
Dan saya menemukan banyak teman-teman saya yang juga seperti itu.
Ada orangtua, saudara, yang belum diselamatkan, tapi tidak dengan gigih membelanya di hadapan Tuhan.

Tuhan mengasihi mereka, itu pasti. Absolutely.

Tidak ada keraguan sedikitpun, karena itu adalah kebenaran firmanNya.
Tapi Tuhan butuh Yunus-Yunus lain. Yang mau menjadi alat Tuhan untuk memberitakan kasihNya yang besar.

Di hari kemerdekaan ini, mari kita mengasihi bangsa ini. 

Mari kita mendoakan keselamatan bangsa ini. 
Mulai dari anggota keluarga kita yang terdekat dulu, kemudian meluas, meluas, dan meluas.
Dari Yerusalem, Yudea, Samaria, bahkan sampai ujung-ujung bumi.

 

I'm coming back to the heart that full of compassion.

    HAPPY INDEPENDENCE DAY     
   GOD BLESS INDONESIA
             


All blessings,

Julita Manik

Wednesday, August 12, 2009

The 'Blessing' and 'Curse' of Cyberworld



Hidup di masa sekarang nggak akan bisa terpisah dari pengaruh dunia maya.
Pengaruhnya begitu besar sehingga mungkin orang-orang lebih memilih wara wiri di dunia maya daripada dunia nyata. Believe it or not.... komunikasi di dunia virtual bisa membuat kita merasa lebih eksis daripada hanya sekedar komunikasi di dunia nyata. Why?
Cyberworld membuat dunia seperti tidak berbatas. Sepertinya tidak ada tembok-tembok ruangan yang membatasi gerak. Perlu bukti?





Badan kita bisa sedang berada di dalam gereja, sedang mengikuti ibadah Minggu.
Kelihatannya sih sedang khusuk dengerin khotbah...
Tapi dengan BB ditangan, kita bisa chat dengan teman-teman kita di seluruh penjuru dunia ini.
The fact ....tubuh kita sedang berada di gereja, tidak sedang beraktivitas berbicara atau bertelepon dengan orang lain, but the truth.... sedang BBM dengan berbagai teman di berbagai kota atau negara, yang nama-namanya ada di BBM list. Pilihan lain....chat dengan YM, atau balas membalas comment di FB, browsing internet., buka twitter, waaah....banyak deh pilihannya.
Dengan kata lain, cyberworld membuat kita borderless dan kita berjalan dengan 2 wajah.
Sibuk berselancar di dunia maya, tapi pas jemaat berseru  "amen..."  kita juga nggak mau ketinggalan ikutan berkata "amen..."     Bener nggak?


Ketika bom Marriott dan Ritz Carlton meledak, saya mengetahuinya dari twitter CNN.
Sebelumnya saya tidak tahu apa-apa, karena siang itu mau pelayanan, jadi sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Nggak sempet buka channel TV, nggak sempet baca koran. Benar-benar tertutup dengan dunia luar. Tapi di perjalanan menuju tempat pelayanan, saya iseng click twitter, dan .......akhirnya saya tahu sesuatu yang dahsyat sedang terjadi, ....tanpa seorangpun berkomunikasi langsung dengan saya personally.
You see ....just one click and you are connecting to cyberworld... then you will know everything happen in this world.





Saya suka segala sesuatu tentang luar angkasa.
Di twitter, saya mem-follow seorang astronot NASA yang baru-baru ini dikirim ke luar angkasa, dan akibatnya segala keingintahuan saya tentang luar angkasa terpuaskan.
Karena Mike sang astronot rajiiiiiin banget nge-tweet dari luar angkasa menceritakan apa yang dilihatnya.






Dan saya termasuk orang yang menerima "the first ever TWEET from OUTER SPACE !"
Banggaaaaanya makkkk........ minta ampun. Apa aja sih yang dia tulis? Antara lain....

From orbit: We see 16 sunrises and sunsets in 24 hrs, each one spectacular as the sun lights up the atmosphere in a spectrum of colors


From orbit: It is so beautiful up here, I wish everyone could see it


From orbit: Viewing the Earth is a study of contrasts, beautiful colors of the planet, thin blue line of atmosphere, pure blackness of space

Apa yang diceritakan Mike membuat hati saya bergetar-getar.
Karena sangat luar biasa indahnya.
Sebenernya.... saya ngga kenal sama sekali secara pribadi dengan Mike, tapi dunia maya membuat saya bisa melihat apa yang dilihatnya dari orbit, directly, tanpa perlu menjadi seorang astronot.


Terus maksud 'The  Blessing and  Curse of Cyberworld' sebenarnya apa?
Kok serem banget?
Sengaja sih cari judul yang catchy, tapi maksud saya dunia cyber yang membuat cara kita berkomunikasi menjadi lebih mudah dan murah ini,
punya side effect. Ada yang positif dan ada yang negatif.
Salah satu yang positif.... simak cerita ini.



FINDING YOUR SOULMATE ON FACEBOOK ?



Kelly Hildebrandt, seorang wanita muda berumur 20 tahun, bertempat tinggal di  Coral Springs, Florida, di tengah-tengah malam yang membosankan di bulan Februari tahun lalu, iseng searching di Facebook apakah ada orang lain yang mempunyai nama seperti dirinya.
Dan ia sangat surprised....  she found another Kelly Hildebrandt.

Namanya bener-bener sama persis.
Yang membedakan, Kelly lain ini adalah seorang pria, berusia 24 tahun, bertempat tinggal di Lubbock, Texas, dan tentunya ganteng. Perbedaan lainnya adalah nama tengah mereka.
'Female Kelly' bernama lengkap  Kelly Katrina Hildebrandt  dan
'Male Kelly'  bernama lengkap Kelly Carl Hildebrandt. 

Ternyata tidak hanya Kelly girl yang mencoba mencari nama yang sama di Facebook, Kelly boy juga pernah melakukannya tapi hasilnya nihil.
Dia berpikir memang tidak ada yang bernama seperti dirinya.
Sehingga ketika Kelly girl menemukan dirinya, Kelly boy sangat terkejut.
Sebaris kalimat  dari Kelly girl.... "Hi. We had the same name. Thought it was cool," ...  ternyata berlanjut menjadi komunikasi terus menerus di dunia cyber.
Setelah berbulan-bulan hanya berkomunikasi via email, chatting, akhirnya Kelly boy memberanikan diri untuk menemui Kelly girl di Florida, dan langsung "fell head over heels".

Kelly dan Kelly semakin menemukan kecocokan, mereka merasa bahwa mereka sudah menemukan soulmatenya, dan orang tua Kelly girl juga kelihatan merestui hubungan ini.
Tak lupa pihak keluarga melakukan riset sebelumnya dan menyimpulkan bahwa nama keluarga  'Hildebrandt'  yang sama itu tidak mempunyai hubungan darah apapun.
Amaaaan..... tidak ada halangan lagi untuk melanjutkan hubungan ini.
Kelly boy dengan segera meminta perusahaan tempatnya bekerja untuk memutasikan dirinya ke Florida supaya ia bisa selalu bersama-sama dengan Kelly girl.

Sepuluh bulan setelah email pertama kalinya yang dikirimkan Kelly girl kepada Kelly boy, akhirnya di bulan Desember 2008 Kelly girl menemukan 'a diamond engagement ring' yang tersembunyi di sebuah kotak perhiasan di atas pasir pantai.  Ooohh...... so sweeeet......  
Kelly Katrina Hildebrandt  berkata dengan bahagia, "I totally think that it's all God's timing. He planned it out just perfect."  
Dan kisah ini akan berakhir bahagia, karena mereka memutuskan akan menikah di bulan Oktober 2009 ini dengan 100 tamu undangan yang akan menyaksikan perayaan pernikahan mereka di  The Lighthouse Point Yacht & Racquet Club in South Florida.
Btw, di Indonesia bisa terjadi cerita begini ga yah..... hahaha... kayaknya sih sulit, karena nama-nama di Indonesia sangat genderize, kecuali saudara Endang (baca 'e' nya seperti 'e' pada telinga) dan saudari Endang (baca 'e' nya seperti 'e' pada ember).


DON'T LET THIS STORY HAPPEN TO YOU



Kisah berikut, adalah efek samping yang negatif dari komunikasi di dunia maya.
Berbeda dengan The Kelly Couple, pasangan ini pernikahannya nyaris porak poranda karena komunikasi di Facebook. Loh.....kok bisa?

Setelah menikah, Jane dan Gary Sherbrooke dengan sangat antusias memposting foto-foto pernikahan mereka di Facebook dengan tujuan supaya semua sahabat-sahabat mereka dapat turut menyaksikan kebahagiaan mereka.
Seperti tidak ingin ada momen yang terlewatkan, semua mereka abadikan di situs populer ini termasuk perjalanan honeymoon yang sarat kebahagiaan, saat melintasi India, Nepal dan Sri Lanka.
Demikian juga saat kelahiran anak pertama mereka, Sam. Sehingga walaupun mungkin ada di antara sahabat-sahabat yang sudah lama tidak bertemu mereka tapi dapat mengikuti update terkini dari keluarga yang baru dibentuk ini. Semua perjalanan hidup mereka diposting dengan sangat detail dalam halaman Facebook.






Tiba-tiba suatu hari bagaikan petir di siang bolong, ada seorang wanita yang mengontak mereka di Facebook dan mengatakan bahwa ia telah tidur dengan Gary.
Tidak sekalipun terlintas dalam pikiran Jane dan Gary, bahwa informasi-demi informasi tentang keluarga mereka di Facebook, yang mereka pikir sangat menyenangkan untuk tetap keep in touch dengan teman-teman ternyata memiliki sisi gelap.

Dalam sebuah message kepada Jane, wanita ini memperkenalkan dirinya sebagai Jennifer May Phillips.
Wanita 'Jennifer' ini mengatakan perkataan yang mendidihkan darah Jane, bahwa ia terkena penyakit kelamin yang hampir membuatnya tidak akan pernah dapat memiliki anak seumur hidup bila tidak cepat didiagnosis, yang diyakini ditularkan oleh Gary. Dan Jennifer menambahkan bahwa ia yakin 100 persen bahwa Jane sudah tertulari dengan penyakit tersebut.

Ketika Jane menunjukkan message tsb kepada suaminya sambil menangis, Gary dengan keras menyangkalnya dan berkata bahwa message itu salah alamat.
"I have never been unfaithful to my wife but I could see the seeds of doubt had been planted."
Gary mengaku selalu setia kepada istrinya, tapi kejadian ini membuat benih keragu-raguan mulai ditanam di pernikahan mereka.


Kedua suami istri ini memohon kepada Jennifer untuk berkomunikasi langsung dengan mereka, tapi permohonan ini tidak pernah dijawab.
Karena tidak kunjung memperoleh jawaban, Gary mengirimkan email ke semua friends yang ada di friend list Facebooknya Jennifer, dan bertanya bagaimana caranya bisa bertemu dengan Jennifer.
Suatu kenyataan yang mengejutkan ditemui Gary, bahwa ternyata dari semua sahabat dalam Facebooknya Jennifer tidak ada seorangpun yang pernah bertemu dengan Jennifer secara langsung, dan tidak ada seorangpun yang mengenalnya secara pribadi. Semua hanyalah teman-teman dunia maya.
Dan seakan tahu sedang dicari, Jennifer menghilangkan profilenya dari Facebook.

Akhirnya Jane dan Gary menyadari bahwa seseorang telah memanfaatkan informasi-informasi yang ada dalam homepage mereka untuk mengacaukan keluarga muda ini.
Dan merekapun menyadari bahwa tidak semua pengguna Facebook mempunyai motif yang baik.
Alangkah bahayanya bila data-data pribadi bisa sampai ke tangan mereka.

Keluarga ini akhirnya menata dan melanjutkan kehidupannya kembali setelah sempat terluka oleh ulah pihak yang tidak bertanggungjawab.



JUST ONE CLICK ! IT COULD BE A BLESSING OR A CURSE 





Mengapa saya tergerak menulis artikel ini?
Karena menyadari betapa luar biasa dampak dari dunia cyber.
Suatu siang, selesai melayani sebagai WL, saya hanya ingin share lawatan Tuhan dalam kebaktian tersebut di status update saya di Facebook.
"Always renewed and refreshed in God's presence"

Sebuah kalimat yang biasa saja, dan tidak punya maksud ditujukan buat orang lain.
Hanya sekedar pengalaman pribadi saja.
Tapi saya dikagetkan ketika menerima message di Inbox FB saya, demikian:

Hari ini waktu buka fb dan baca tulisan kakak tentang renewed n refresh in God presence
rasanya seperti bangun dari tidur yang sangat panjang,
sampai hari ini aku sudah tidak pernah lagi ke gereja, baca Alkitab,
kadang berdoa tapi rasanya semu banget,
rasanya keilangan gairah ikut Tuhan- ga seperti dulu,
mungkin karena aku sering berpikir Tuhan masih care ga ya sama aku karena aku sering/sangat berdosa sama Tuhan,
aku ingin kembali tapi ga tau, takut dan rasanya ga mungkin..
ato masih mungkinkah?
need your advice, pls help me


Puji Tuhan kalau apa yang kita tulis atau kita share bisa menyadarkan, mempertobatkan atau membahagiakan seseorang.
Tapi bagaimana kalau kita menulis dalam keadaan kita yang desperate .... 
"males hidup, ah... rasanya mau mati saja..."
kemudian dibaca oleh orang yang sedang desperate juga dan akhirnya mengambil keputusan yang salah?
Tulisan kita bukannya menjadi berkat tapi seperti kutuk atas hidup mereka.

 "You are our letter written in our hearts, known and read of all men."
(2 Corinthians 3:2 / NKJV) 

Kemajuan jaman membuat hidup kita yang bagaikan 'surat terbuka yang dapat dibaca semua orang',
tidak hanya tertulis di hati pemimpin-pemimpin rohani kita, tapi juga di Facebook, di dunia cyber.
Dapat diakses dan dibaca banyak dan banyak orang.

Oleh karena itu, biarlah hidup kita, apa yang ada dalam pikiran kita senantiasa menjadi berkat bagi orang lain.
Buatlah kehadiran kita di dunia cyber membawa pengharapan baru bagi yang membutuhkan.


All blessings,

Julita Manik





Rainbow Pinwheel - Link Select