Wednesday, February 4, 2009

Being Healthy??? You decide.



















Banyak orang yang penasaran asal muasal saya mengikuti detox 21 hari.
Apa sih yang memotivasi? Kok bisa sih menjalaninya?
Sebenarnya tahun lalu saya sudah pernah mendengar kesaksian tentang seminar ini dari teman saya yang mengikuti retreat 3 hari untuk healthy living, dan dalam retreat tsb makanan yang dihidangkan sudah mulai mengikuti pola detox. Sepulang dari retreat teman saya melanjutkannya, dan dalam 21 hari dia turun 8 kg (wow..!!), tidak hanya memiliki tubuh ideal tapi juga kolesterol cs yang tinggi dalam darahnya menjadi normal. Sudah tidak pernah lagi migrain, dan keluhan lainnya.

Meski tertarik, saya nggak yakin dapat mengikuti detox ini.
Can you imagine in 21 days no meat at all??
Plus no pizza, burger, pasta, fried chicken, and soft drink?

Juga nggak boleh makan cemilan favorit saya yang crispy dan crunchy?
Oohh.. pencobaan ini terlalu berat bagiku.


Yaaa iya laaah...
karena menu 3 hari pertama hanya minum jus buah, dan hari ke 4 sampai 21 boleh ditambah makan beras merah 5 sendok makan, dengan lauk tahu atau tempe dan sayur mayur. Please deh.... Berat bo' ....


Sampai 2 bulan yang lalu salah seorang sahabat karib saya (yang saya tahu persis bagaimana pola makannya) diam-diam mengikuti seminar dan menjalani detox ini. Dan bagi saya, teman saya ini adalah the most impossible person yang akan tertarik untuk menjalaninya karena kesukaannya terhadap segala makanan enak, kue-kue yang manis, dan kudapan.
Alhasil 21 hari kemudian dia muncul dengan new shape yang mencengangkan kami semua. Wajahnya juga kelihatan segar sekali.
Turun 6 kg, dan bebas dari kecanduan kopi. Wooow...!!!

Saya tertarik mengikuti detox ini, dengan alasan kalau sahabat karib saya yang doyan makan bisa menjalaninya sampai selesai, pasti saya juga bisa.
Tetapi ada satu pertanyaan yang mengganjal hati saya. Sebenarnya apa sih yang memotivasi teman saya ini (yang bahkan untuk puasa saja dia sulit sekali melakukannya)?
Dia berkata, bukan semata ingin turun berat badan, tapi ngeri melihat dampak inputan makanan tak sehat yang sehari-hari dia asup.
Statementnya yang sangat saya ingat, "Lo mesti liat deh pembicara seminarnya, pasti lo kepingin ikut."

Waah, ... saya jadi tambah penasaran. Akhirnya kami sepakat mengundang Ibu Pit Lin memberi seminar Healthy Living di gereja kami.


Seminar Healthy Living yang dibawakan Ibu Pit Lin, sungguh mengubahkan paradigma saya khususnya tentang pola makan. Dalam seminar itu Ibu Pit Lin menguraikan tentang menjalani pola hidup sehat dimulai dengan detox
21 hari. Kenapa sih harus 21 hari? Kok berat amat?
Karena asumsi dalam selang waktu itu, toxin-toxin dalam tubuh dapat dikeluarkan. Dan 21 hari adalah waktu yang dibutuhkan tubuh untuk adaptasi terhadap pola makan sehat.

Mendengarkan testi beliau, saya yakin pasti akan mengetuk hati kita untuk mulai sadar akan kesehatan. Mengaku sebelumnya sebagai workaholic, makan junk food, dan kurang istirahat, diyakini Ibu Pit Lin sebagai pemicu sakit kanker yang dialaminya. Didiagnosis mengidap breast cancer stadium tinggi, penyakit ini cepat sekali menjalarnya hingga sudah sampai ke paru-paru dan tulang belakang. Pita suara juga menempel sehingga harus dioperasi, dan sampai sekarang ketika ibu Pit Lin berbicara harus memegang lehernya. Begitu parah dampak kanker tersebut.

Ketika sudah terkena tulang belakang, Ibu Pit Lin hanya bisa tidur saja selama 3 tahun, dan setiap saat didera sakit yang luar biasa. Rasa sakit yang menyerang sebagai dampak kanker seperti datang dan pergi. Bila rasa sakit itu datang, Ibu Pit Lin meminta supaya dirinya ditusuki jarum di sekujur tubuhnya untuk mengurangi rasa sakit.
Baju-bajunya sampai berlubang, karena selalu ditusuki berulang-ulang. Beberapa kali minta Tuhan segera mencabut nyawanya saat sudah tidak sanggup lagi menanggung derita. Tapi ketika sepertinya badan lagi enak, beliau ingat anaknya yang masih kecil, dan orangtuanya yang belum diselamatkan, dan memohon supaya Tuhan menyembuhkannya.


Suatu ketika ada seorang opa yang menyarankan beliau untuk mencoba healthy living. Back to nature. Beliau berpikir mana mungkin dia bisa bertahan hanya dengan memakan makanan tumbuhan, dan tidak ada daging sama sekali. Bukankah penderita kanker harus diperkuat daya tahan tubuhnya untuk melawan penyakit? Bagaimana mungkin hanya makan tetumbuhan dapat melakukannya?

Tapi akhirnya beliau menyerah, dan mulai mencoba pola makan sehat.

Apa yang terjadi?
Beliau sembuh total.
Dan sejak saat itu sampai kini beliau aktif sekali mengadakan seminar Healthy Living untuk menyadarkan banyak orang, termasuk saya.


YOUR FOOD CAN KILL YOU




















Setelah mendengarkan seminarnya, saya yakin bahwa pembunuh terbesar manusia sebenarnya pelaku utamanya bukan penyakit, tetapi makanan. Makanan yang salah mengakibatkan penyakit dan penyakit akhirnya merampas umur kita.

Uraian beliau sangat Alkitabiah. Bukankah ketika manusia masih hanya memakan biji-bijian saja umur mereka sangat panjang?
Dan ketika jaman Nuh baru mulai ada kompromi memakan daging, karena memang saat itu sudah tidak ada lagi tanaman di muka bumi yang musnah diamuk air bah 40 hari.
Dan Nuh sekeluarga mulai makan daging hewan yang terselamatkan karena ikut serta dalam bahtera.
"Kalau begitu nggak apa-apa dong Bu makan daging?"
Mungkin itu yang akan menjadi dalih kita.
Betul, kalau kita yakin daging yang kita konsumsi adalah dari hewan yang sehat.
Dan ternyata daging hewan yang boleh dikonsumsi dalam Alkitab semuanya sudah discreening Tuhan berasal dari hewan yang dipastikan dagingnya tidak akan merusak kesehatan kita.

Ibu Pit Lin menambahkan, jaman sekarang di jaman yang serba instant ini, kita mengkonsumsi ayam yang berasal dari peternakan, dimana ayam-ayam tersebut tidak lagi memakan biji-bijian natural tapi palet yang merupakan hasil olahan, bahkan kadang-kadang dibuat dari bagian-bagian daging ayam yang tidak bisa dijual.
Lho... ayam kok makan ayam???
Disamping itu ayam-ayam sekarang diamnya di peternakan berdesak-desakan, tidak seperti dulu bebas berlari di halaman, sehingga ternak-ternak sekarang banyak yang stress.
Lho...hewan kok bisa stress??
Kayak manusia aja...hehe..


BELIEVE IT OR NOT!

Familiar nggak dengan wajah pria-pria di poster ini? Kalau jawabannya 'YA', sudah pasti Anda adalah penggemar drama TV Korea. Mereka ini adalah pemeran dalam serial GOURMET, yang mengisahkan pergumulan menjadi chef no 1 yang akan mewarisi pisau Sensei yang dulu pernah menjadi juru masak raja Korea. Ketika Jepang menjajah Korea, tentara Jepang mengistruksikan Sensei yang sangat luar biasa kemampuan masaknya ini untuk melayani penguasa Jepang. Terikat janji bahwa dia hanya mau melayani raja Korea, sang Sensei menolak permintaan tersebut dengan memotong tangannya supaya tidak dapat dipakai lagi untk memasak. Suatu drama yang sangat menyentuh.

Di film ini saya mendapat banyaki pembelajaran. Salah satunya adalah 'sapi juga bisa stress'. Haaahhh ??????
Ambisi untuk menjadi chef ternaik, digambarkan dalam adegan perebutan sapi yang diyakini terbaik di seluruh jajaran Korea. Dengan segala cara, sapi yang diperebutkan ini dibawa dengan truk yang ngebut sepanjang jalan menuju tempat kontes.

Apa yang terjadi? Pada saat sapi disembelih, dan dagingnya diperiksa, ternyata sapi yang diperebutkan, yang diyakini kualitas dagingnya terbaik, malah tidak mendapatkan juara. Kenapa?
Ternyata sepanjang jalan sapi itu stress, dan stress itu mempengaruhi kualitas dagingnya. Saat stress, sebagaimana pada manusia, sapi juga menghasilkan hormon negatif yang menjadi toksin ke seluruh badan.
Dan toksin itu akan diserap juga oleh daging sapi.

Ketika ibu Pit Lin menyinggung bahwa daging hewani yang sekarang dikonsumsi manusia tidak aman, karena banyak hewan-hewan yang stress, saya nggak kaget lagi. I heard it before.


Jadi solusi hidup sehat adalah BACK TO NATURE. Hiduplah sealami mungkin. Makanlah makanan yang tidak diawetkan. Dan banyak uraian lainnya yang nggak bisa saya uraikan semuanya di sini.
Boleh ikuti seminar yang tiap hari Sabtu diadakan beliau di CLUB SEHAT,
jalan Cideng Barat 62B, Jakarta Pusat. Jam 16.00.
Nggak bakalan nyesel deh ngikutinnya.




Pola hidup sehat itu holistik.
Jadi nggak bisa hanya memperhatikan asupan makanan tetapi juga harus olah raga, tidur yang cukup (tidur juga detox loh..)
Juga jangan stress. Ingat.. "hati yang gembira adalah obat yang manjur."
Percuma kita makan makanan sehat tapi sering stress, tidak bersyukur, kuatir berlebihan. Karena dapat mengakibatkan tubuh kita melepaskan enzim-enzim yang dapat meracuni tubuh. Lha...wong sapi stress aja enzim negatif yang dihasilkan oleh stress dapat meracuni dagingnya. Kitapun sama.

Setelah membaca ini bagaimana respon Anda dan saya?
Kalau saya, saya sudah mulai menjalaninya.
Saat menulis artikel ini sudah menjalani detox hari ke 8.
Dan badan terasa segar sekali. Melayani Tuhan juga lebih semangat.

Ingin mencoba?? Siapa takut!!!



All Blessings,



Julita Manik 



1 comment:

  1. saya tertarik dengan tulisan ini, saya juga ingin memulai veggie tapi tidak tau caranya. apa bisa di jabarkan lebih dlm lagi soal komposisi makanan yg dpt dimakan dan brp takaran nya tiap hari ?

    ReplyDelete






Rainbow Pinwheel - Link Select