Sunday, March 1, 2009

Biarkan Hati Nurani Bicara (STOP PIRACY !!!)

















Semakin maraknya pembajakan hak cipta seperti wabah penyakit yang meluas dengan sangat cepat dan tidak dapat dihentikan penyebarannya. Begitu hebatnya piracy ini sehingga kadang-kadang album ori belum ada di toko musik, tetapi bajakannya sudah dijual.
Saya sudah lama tahu akan hal ini dan tidak terlalu ambil pusing karena merasa tidak dapat berbuat apapun. 
Dulu saya pernah berpikir, kok ada yah yang tega membuat dan memperjualbelikan CD bajakan lagu rohani Kristen. Kan segmen nya nggak seberapa besar. Apalagi dibandingkan dengan segmen musik sekuler Indo, seandainya dibajakpun populasi potensi pembelinya jauuuhhhh lebih besar. Ini...udah minoritas, dibajak pula lagi. Yah...nggak heran kalau banyak label rekaman Gospel Indo yang collapse.

Belakangan topik ini menjadi hangat dikalangan pecinta musik Gospel karena piracy semakin merajalela. Bukan hanya memperjualbelikan CD bajakan, tetapi membuat blog di internet yang memberikan feature download MP3 album-album ternama musik Kristen Indonesia. Banyak sekali blogger-blogger yang menawarkan download gratis kepada readernya.
Seorang teman meminta saya untuk melihat blogspot tsb, dengan perkataan, "kak...liat deh, album kakak juga ada di situ, di halaman paling depan lagi.."

Yang membuat saya menulis artikel ini, bukanlah defense karena album saya termuat dalam daftar download gratis. Tetapi dikarenakan membaca debat yang ada di kolom comment tsb. Pedih sekali hati ini rasanya membaca tulisan-tulisan di comment tsb. Nggak cukup menyakiti dengan menyebarluaskan karya seni lewat download gratis, ditambah membenarkan diri mereka dengan perbuatan yang jelas-jelas merugikan orang lain.

Saya tahu memang piracy ini banyak yang pros & cons, dengan alasan masing-masing. Rambut boleh sama hitamnya, tapi isi kepala berbeda toh?
Ada yang bilang ke saya, "yaah...ambil hikmahnya aja, senimannya lebih suka kepuasan batin atau kepuasan materi?"
Ada juga yang berkata, "lihat positifnya deh, dengan dibajak lebih banyak yang denger dan nama Tuhan Yesus lebih disebarkan."
Yang lain berkata, "lho...jangan protes dong, lagu-lagu rohani kan inspirasinya dari Tuhan, masa sih diperjualbelikan secara komersil."
Lho.....yang dirugikan kok malah jadi pihak tertuduh ya?
Saya jadi bingung sendiri.

Sehingga melalui tulisan ini saya ingin memperlhatkan sebuah bahan perenungan, bukan bahan perdebatan (I hate arguing), perjalanan pembuatan sebuah album rohani. Sesudah itu, teman-teman boleh menilai sendiri,
apa yang menjadi keputusan teman-teman atas pemikiran ini.


THE LONG JOURNEY OF MAKING A GOSPEL  ALBUM
Sebuah album rohani sangat mengandalkan lagu-lagu yang termuat di dalamnya, mungkin lebih dari penyanyinya sendiri. Penyanyi paling terkenal sekalipun, tetapi kalau lagu-lagunya kurang diterima maka tidak akan berhasil. Terbukti banyak artis-artis sekuler yang membuat album rohani tetapi kurang berhasil. Sebaliknya bila sebuah lagu rohani boom!!!, maka dapat dipastikan hampir disemua (mayoritas) album rohani yang direlease pasti ada lagu tersebut. Yah...seperti lagu sejuta umat. Dulu lagu Bapa Yang Kekal pernah sangat populer sekali, dan saya mencatat nggak kurang dari 40 album ada memuat lagu ini menjadi salah satu lagunya. Bahkan teman saya pernah menunjukkan MP3 bajakan berisi 100 lagu (dari 10 album), dan di dalam bajakan tersebut ada 5 versi lagu Bapa Yang Kekal dalam 5 album yang berbeda-beda. Demikian juga yang terjadi untuk lagu rohani populer lainnya seperti JanjiMu Seperti Fajar, Semua Baik, Mujizat Itu Nyata, Sentuh Hatiku, dll.

Jadi faktor lagu adalah The Most Important Thing In Gospel Album.
Dan lagu nggak bisa dipisahkan dari penulisnya alias songwriter. Karena lagunya untuk konsumsi rohani, tentunya harus based on Bible.
Nggak bisa nggak. Dan tahukah teman-teman, mayoritas songwriter hidupnya benar-benar bergantung pada profesi mereka sebagai penulis lagu? Kebanyakan mereka adalah fulltime as songwriter. Dapur mereka ngebul dari pekerjaan mereka. Dan banyak yang telah berkeluarga dan memiliki anak. Apakah karena lagu rohani, terus mereka nggak mendapatkan bayaran atau royalti atas pekerjaan mereka? Walaupun writing a song is their job, tapi mereka (paling nggak yang saya kenal) adalah orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, dan menuliskan pengalaman pengenalan mereka akan Tuhan dalam lagu yang mereka tulis. Dan proses penulisan lagu bukanlah hal yang mudah, karena membutuhkan banyak perenungan, mencocokkan dengan ayat Alkitab,
bukan asal tulis. Beberapa lagu rohani yang sangat populer dihasilkan dari kehidupan songwriter yang dengan sangat luar biasa diremukkan dan dibentuk oleh Tuhan. Yang belum tahu, silahkan baca artikel JANJIMU SEPERTI FAJAR, SEMUA BAIK (dalam link : DEDICATED TO SONGWRITER) di blog ini. Tentunya sebagaimana hukum ekonomi (karena album rohani adalah produk yang diperjualbelikan), songwriter yang lagu-lagunya sangat disukai akan memperoleh bayaran yang lebih mahal dibandingkan songwriter yang karyanya belum terlalu diresponi.


Seorang penyanyi yang baik, dan memiliki lagu-lagu yang baik tentu diharapkan akan berhasil penjualan albumnya. Dalam proses rekaman, take vocal nggak cukup sekali. Kadang-kadang harus dilakukan berulang-ulang demi mendapatkan hasil yang baik. Belum lagi kalau melakukan banyak kesalahan, yaah...mesti diulang-ulang. Semuanya dengan harapan, kualitas suara yang terbaik yang dihasilkan dan bisa memberkati pendengarnya. Nggak cukup persiapan suara, penting juga persiapan batin. Penjiwaan akan semakin baik bila penyanyinya sudah mengalami peremukan dari Tuhan. Sehingga tidak ada niat untuk mencuri kemuliaan Tuhan. Percaya bahwa semuanya bisa terjadi karena kasih karunia Tuhan. Tapi meskipun demikian, hukum ekonomi berlaku juga atas musik Gospel. Bila penyanyinya adalah penyanyi favorit, maka bayarannya juga akan semakin mahal. Nggak bisa dipungkiri kenyataan beberapa lagu menjadi naik daun karena dinyanyikan penyanyi-penyanyi favorite. Walaupun sebelumnya lagu tsb sudah pernah dipublish penyanyi lain.
Dan kalau mau jujur yah, perhatikan deh...  CD hasil bajakan ataupun situs download gratis. Mereka nggak ngasal dalam membajak, atau kalau di situs, nggak semua album mereka tampilkan. Mereka hanya memilih yang terbaik, yang mereka tahu sangat atau akan disukai oleh umat Kristiani.


Lagu yang baik bisa berbeda bila ditangani orang yang berbeda. Ada arranger yang piawai sekali mengolah lagu-lagu tempo cepat, ada yang lebih fokus ke lagu-lagu lambat, dan ada yang pinter dikeduanya. Dan mayoritas mereka menjadikan music arranging sebagai mata pencaharian mereka. Mereka sangat skillful, sangat capable, dan mereka menghasilkan suatu karya seni. Apakah karena musik Gospel mereka nggak mendapatkan bayaran atas karya mereka? Yang jelas semakin jago mereka membuat arrangement, maka biaya pembuatan musik perlagunya akan semakin mahal. Intro-intro yang kelihatan sederhana, tetapi menjadi enak didengar bila dihasilkan tangan dingin mereka. (Walaupun kedengarannya melody intronya sederhana, tetapi nggak mudah loh mengcreatenya, terbukti dengan standardnya semua intro lagu tempo cepat di semua gereja, benar-benar persis seperti musik ori nya). Kalau disuruh membuat intro lain, karena mungkin sudah merasa bosan, seringkali yang dihasilkan nggak seindah musik aslinya.


Masuk dapur rekaman, gantian tangan dingin operator studio yang mengambil peran. Dalam pengalaman 3 kali masuk studio rekaman, saya menilai mereka adalah orang-orang yang sangat sabar. Memencet tombol play backup music berulang-ulang (apalagi kalau penyanyinya sering membuat kesalahan), mengatur fade in/out, menggeser interval suara ke kanan ke kiri (karena sekarang adalah jaman digital), memoles suara yang fals, semuanya membutuhkan kesabaran, ketelitian dan keahlian.
Dan mereka juga adalah orang-orang expert yang fokus di bidangnya.
Jarang yang side job.
Karena pekerjaan ini membutuhkan konsentrasi tinggi, nggak boleh salah ambil data musik dan suara.
Dan proses rekaman berlangsung berjam-jam tiap harinya
(biasanya 1 shift 6 jam). Bila salah pencet tombol aja....bisa-bisa seluruh data hilang, dan harus diulang lagi. OMG !!!
Beberapa studio rekaman yang saya masuki, mereka memakai software ori. Yang harganya sangat muaahhaall bo'. Mereka punya alasan yang logis,
"Kami hidup dari hak cipta, maka kami nggak mau menghancurkan sesama kami yang juga hidup dari royalti hak cipta (maksudnya pembuat software).
Kami ingin melakukan hal yang kami ingin orang lain juga berbuat yang sama pada kami."


Dan akhirnya.... setelah mixing dan mastering selesai, barulah masuk fabrikasi untuk duplikasi CD ataupun kaset. Dan semuanya itu nggak gratis. Harus bayar. Dan biasanya bagian manufacturing juga membuat surat perjanjian tidak akan menggandakan CD atau kaset tsb tanpa seijin produser. Kalau melanggar pasti ada hukumannya sesuai dengan UU Hak Cipta.


Semua tahap-tahap di atas, mulai dari songwriter, singer, music arranger & recording operator, duplikasi, bekeja sama untuk menghasilkan rekaman yang bermutu dan memberkati pendengarnya. Masih ada lagi sessi pemotretan dan desain grafis, untuk cover yang akan masuk percetakan. Yang semuanya melibatkan tenaga-tenaga profesional.
Jadi dari semua proses yang panjang di atas, semuanya mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Siapa yang mendanai semua cost tsb? Mulai dari cost untuk songwriter, singer, backup singer, arranger, music filler,operator rekaman, mixing dan mastering, dan pembuatan cover?
Semuanya dibebankan kepada executive producer, dan semuanya dibayar di depan. Pay cash in advance.
Biaya ini nggak sedikit, mulai dari puluhan hingga ratusan juta Rupiah.
Dan memakan waktu dan tenaga yang nggak sedikit. Sehingga sudah jelas semua proses yang panjang ini akan menghasilkan sebuah produk yang akan diperjualbelikan (bukan gratis), dan diharapkan hasil penjualannya akan menutupi biaya produksinya.

Tetapi dengan mengabaikan proses idea creation untuk thema album, mengabaikan waktu yang panjang dan biaya yang mahal, dengan seenaknya pembajak membuat bajakan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya dan dengan biaya yang seminim mungkin.
Mereka bisa menjual CD hanya seharga Rp. 5000 (dan mereka sudah bisa mendapatkan keuntungan paling nggak 70% dari harga CD), karena nggak perlu susah-susah membuat ide album. Nggak perlu repot-repot rekaman, nggak perlu bayar songwriter, singer, studio rekaman, dan fabrikan.
Semua long journey itu dipangkas, dari 5-6 tahap menjadi hanya 1 tahap saja yaitu duplikasi CD. Gimana nggak murah?


STOP PIRACY SHOULD BEGIN FROM CHURCH

















Janganlah menahan kebaikan daripada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.
(Amsal 3:27)



Suara STOP PIRACY harus menjadi suara gereja.
Saya pikir gereja harus mengajarkan pengerjanya dan jemaatnya untuk tidak beria-ria di atas kerugian orang lain.

Teman-teman mungkin sudah membaca artikel "JANJIMU SEPERTI FAJAR" di blog ini. Bagaimana Bpk. Afen sekeluarga dibebaskan dari kemelut ekonomi melalui lagu ciptaannya ini. Dan semua teman-teman yang sudah membeli album ori yang memuat lagu karya beliau telah turut berpartisipasi dalam pemulihan tsb. Mungkin ketika membeli CD atau kasetnya, teman-teman nggak pernah berpikir sejauh itu, tetapi sesungguhnya Tuhan telah memakai teman-teman untuk menolong Bpk. Afen sekeluarga.

Juga saya harap teman-teman sudah membaca artikel di blog ini
tentang lagu "SEMUA BAIK".
Ketika teman-teman membeli album ori yang memuat lagu karya
alm. Bpk. Budi ini, sesungguhnya teman-teman telah menjadi alat Tuhan untuk memelihara kehidupan istri beliau (ibu Yani) dan anaknya Michael. Beliau hanya meninggalkan warisan sebuah lagu bagi anak istrinya.
Dan melalui kita semua yang membeli album orinya, karya lagu tsb menjadi berkat bagi keluarga yang beliau tinggalkan.

Dan seberapa tega membeli fake album barunya Jacqlien Celosse?
Dengan menahan rasa sakit yang luar biasa, she did the recording.
Saat ini every single Rupiah we paid for her album means a lot to Jacqlien, yang sedang membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan penyakit yang sedang dideritanya. (Artikel tentang penyakit Jacqlien ada di link:
THAT's WHAT FRIENDS ARE FOR)

Kalau kita membeli album bajakan, berarti kita sedang memberikan persembahan kepada orang yang tidak berhak. Kita memberkati orang yang tidak ada hubungannya dengan proses rekaman album rohani.
Dengan mendownload gratis kita telah menjadi penghalang berkat bagi orang-orang yang seharusnya menerimanya.
Alasan "bukankah hasil penjualan CD atau kaset hanya dinikmati oleh produser?" sebenarnya bukanlah alasan untuk membenarkan diri untuk memiliki produk mereka secara gratis. Maraknya pembajakan, membuat produser megap-megap dan memangkas semua biaya, dan berdampak kepada orang-orang kreatif didalamnya.


AM I A RICH ARTIST?
Bicara tentang kekayaan, ada yang berpikir, penyanyi rohani memperkaya diri dengan firman Tuhan yang dinyanyikan di albumnya.


Jujur, hingga saat ini saya belum pernah mendengar orang yang menjadi kaya raya karena penjualan album rohani. Termasuk saya sendiri.
Saya berharap jangan mencari alasan yang berlebihan untuk membenarkan perbuatan yang memang tidak benar.
Oh ya, saya juga mendengar di sebuah kota ada sebuah toko musik rohani yang menjual khusus CD rohani bajakan. Dan banyak imam musik yang pergi ke sana untuk membeli album baru.
Tujuannya belajar lagu baru yang akan diajarkan ke jemaat.
Semoga kita semua sadar dan tidak melakukannya lagi.
Tuhan selalu mengajarkan kita untuk membayar harga.
Dalam Tuhan tidak ada mental gratis. Yang gratis hanya darah Yesus.
Tetapi menjadi muridNya harus bayar harga.
Jadi imam musik juga harus bayar harga. Setuju??? (dengan segala kerendahan hati, saya memohon.. harap renungkan sebelum menjawab).

Oh ya...ada perbedaan antara musik dunia dengan musik Gospel.
Untuk musik dunia, bila dinyanyikan di public space harus bayar royalti
(untuk negara Barat, misal di kafe, karaoke, tempat pertunjukan, mall, dll.)
Tetapi untuk musik rohani, mau dinyanyikan banyak kali di gereja atau ibadah, tidak dipungut royalti, tidak perlu bayar, sepanjang Anda tidak merekam dan memperjualbelikannya tanpa ijin.
Tetapi bila dinyanyikan di Karaoke yang notabene bukan tempat ibadah, maka pengusaha Karaoke harus membayar royalti kepada songwriter (Indonesia juga sedang menuju ke arah sana, dan ada beberapa draft kontrak yang sedang akan saya tanda tangani sehubungan hal ini).
Kalau nyanyi di ibadah harus bayar royalti, maka Sari Simorangkir sahabat saya akan menjadi songwriter yang paling kaya raya dari royalti tsb, karena hampir 70% lagu-lagu yang dinyanyikan di ibadah di hampir semua gereja karismatik Indonesia adalah karya sahabat saya ini.
But don't worry...be happy...they are all free.
Itulah kepuasan batin sang songwriter melihat lagu-lagunya memberkati jemaat Tuhan.


Ada teman yang berkata, "harusnya lo senang dong lagu lo dibajak, berarti kan ada peminatnya. Ada yang cari lagu lo gitu loh.."
Memang benar, nggak semua album atau lagu dibajak karena pembajak juga seperti pengusaha, memilih karya-karya yang mempunyai peminat. Tetapi, apapun yang menjadi alasan untuk membenarkan diri, bahkan berjuta alasan sekalipun, tidak akan membuatnya dapat dibenarkan.

Itu yang menjadi motto STOP PIRACY.
MILLIONS OF WRONGS, DON'T MAKE IT RIGHT.

Blog ini adalah bagian pelayanan saya kepada Tuhan dan jemaatNya
(as a singer and songwriter), yang saya berikan secara gratis.
Ada beberapa kali artikel di blog ini dikutip dalam majalah rohani, renungan harian, milis-milis Kristen, ataupun blogger lainnya. Tetapi saya nggak pernah menuntut apapun, karena ini gratis. Even pengakuan. Karena ada beberapa yang kutip artikel di blog ini tanpa menuliskan narasumbernya.
It's ok for me, because it's free. Tapi akan berbeda bila menyangkut selling product. Misal CD atau kaset. It's not free my friends.

Demikianlah curahan hati saya akan piracy thing.
Himbauan saya mari kita belajar menghormati karya orang lain.
Belajar dari hal-hal kecil (saya pikir harga CD yang berkisar Rp 25-40 ribuan bukanlah hal besar yang harus ngotot diperdebatkan dalam membeli album, kira-kira sama dengan harga 2 piring nasi goreng di restoran).
Dari hal kecil kita belajar kepada hal-hal yang lebih besar lagi.

Bila ternyata ada yang masih belum mampu atau belum mau membeli album ori dan terpaksa membeli yang bajakan atau download gratis....
saya nggak bisa bilang apa-apa, but please... jangan membuat kami sedih dengan kata-kata pembelaan diri yang memedihkan hati kami.
Semuanya kembali lagi ke hati nurani.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

P.S.  Million thanks untuk blogger kancutband
(http://www.kancutband.blogspot.com/)
yang sudah menghapus semua materi download gratis di blognya.
Saya percaya apa yang kamu lakukan Tuhan perhitungkan.
God bless you abundantly.




All Blessings,

Julita Manik

1 comment:

  1. salam kenal dari saya di USA. saya jg byk sekali pertanyaan.
    akhir2 ini TUHAN kasih saya alunan music cantik sekali, dan saya berencana ingin mempublikasikan music saya, tapi msh bingung harus di patent dulu atau langsung saja serahkan ke produser ? mana yg baik menurut Julita ? terima ksh. cathy....

    ReplyDelete



<br><br>



<br><br>