Tuesday, November 23, 2010

Lebih Baik Pergi Ke Rumah Duka



"Pergi ke rumah duka lebih baik  dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia:  hendaknya orang yang hidup memperhatikannya."    (Pengkhotbah 7:2)

Akhir-akhir ini beberapa teman saya kehilangan orang-orang yang mereka cintai untuk selama-lamanya, karena sudah mendahului pulang ke rumah Bapa.  Sehingga pergi ke rumah duka menjadi  sesuatu yang sering saya lakukan. Dulu rasanya saya paling takut kalau membayangkan berada di rumah duka. Kalau bisa memilih mending nggak deh. Merinding rasanya berada dekat tubuh yang sudah terbujur kaku.

Sampai suatu ketika dalam suatu ibadah penghiburan di rumah duka
saya mendengarkan pembacaan ayat yang ditulis Raja Salomo dalam
Pengkhotbah 7:2 di atas.
Bayangkan Salomo seorang raja yang sangat besar, kaya, dan berkuasa.
Apa sih yang tidak dia miliki?
3 TA yang terkenal semua diamiliki, ..... harTA, tahTA, waniTA.
Kurang apa lagi ???
Pesta yang termegah pernah dia hadiri. Kehidupan yang super duper glamor makanan sehari-harinya. Dan orang-orang pun mengaguminya, ....karena hikmat yang dimilikinya.

Tapi raja yang begitu agung yang menulis Pengkhotbah 7:2,
Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.


THE END OF A THING IS BETTER THAN IT'S BEGINNING

 

Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya. 
(Pengkhotbah 7:8a)

Saya menjadi lebih mengerti kenapa Salomo berkata lebih baik pergi ke rumah duka dari pada ke rumah pesta. Karena di rumah duka adalah akhir perjalanan seorang manusia di muka bumi ini. Dan di rumah duka juga kita bisa mengetahui apakah seseorang berhasil atau tidak mengakhiri pertandingan dengan baik.
Saya berkata begini bukan berarti kita menghakimi seseorang saat berada di rumah duka.
No way..... itu bukan bagian kita.
Bagian kita adalah belajar menyadari bahwa hidup kita ada akhirnya.
Dan 'bagian akhir' jauh lebih penting dari 'bagian awalnya'.


LIFE IS SHORT.



Di rumah duka juga kita menyadari betapa fananya kehidupan seorang manusia. Pemazmur mencatat paling banter sekitar 70-80 tahun.
Tetapi perjalanan hidup di tahun-tahun yang fana itu akan menjadi modal bagi kita untuk menjalani hidup dalam kekekalan. Apakah kita akan menjadi perabot yang mulia atau yang kurang mulia?
Semuanya ditentukan oleh 70-80 tahun yang fana.

Bila di tahun-tahun yang fana tsb kita hanya sibuk mengumpulkan harta duniawi, semuanya itu tidak akan berguna saat kita pulang ke rumah Bapa.
Jonathan Prawira (one of the best gospel songwriter in Indonesia)
menuliskan dengan sangat luarbiasa indah dalam lagu ciptaannya
"Hati S'bagai Hamba".....
"kutak membawa apapun juga..... saat kudatang ke dunia...
kutinggal semua pada akhirnya.... saat kukembali ke surga..."

Selama dipercaya hidup di dunia, kumpulkan harta di surga dimana tidak ada ngengat dan karat yang akan merusaknya, atau pencuri yang akan membongkar dan mencurinya.


LIVE IT TO THE FULLEST.



Bagi saya  live it to the fullest  ini bukan hanya apa yang bisa yang kita kerjakan untuk pencapaian pribadi, tapi juga apa yang bisa kita lakukan kepada orang-orang yang kita kasihi.
Di rumah duka banyak terdengar penyesalan dari kerabat yang ditinggalkan.
Ada anak yang menyesal kurang berbakti kepada orangtua, tidak menyadari bahwa dirinya tidak punya banyak kesempatan lagi untuk membalas kasih orangtua. Ada kakak yang menyesal kurang mengasihi adik, ada teman yang menyesal karena kurang bisa meluangkan waktu untuk bestfriendnya.

Saya juga pernah menyesal dengan sangat dalam, waktu Tuhan memberi beban untuk memberitakan Injil kepada salah seorang teman baik saya. Beban itu begitu dalam sekali, tapi saya menunda-nundanya...tarsok tarsok terus setiap hari. Sampai akhirnya saya tidak sempat melakukan amanat agung itu karena teman saya ini mengikuti ekspedisi mahasiswa di Sumatera dan saat menyeberangi kali yang kelihatan tidak dalam dihanyutkan banjir bandang yang tiba-tiba datang.
Saya hanya bisa menyesal, ... menangis, ... dan minta pengampunan kepada Bapa.  Life is short my friend. Live it to the fullest.


HOW WOULD YOU LIKE TO BE REMEMBERED ? 
(WRITE YOUR OWN OBITUARY)





"dan hari kematian lebih baik daripada hari kelahiran."
(Pengkhotbah 7:1b)

Kita semua harus bisa mengakhiri pertandingan dengan baik.
Start dan finish dengan baik.
Akhir sesuatu lebih baik dari awalnya. Jangan mau memulai sebagai yang terdepan dan berakhir sebagai yang terkemudian.

Karena akhir begitu penting, maka seperti apa akhir hidup yang kita inginkan, kita sendiri yang putuskan.
Dan kita juga yang harus menjalani apa yang sudah kita putuskan.
Sekarang kalau kita google banyak sekali website obituary.com yang menyediakan tempat untuk kita menuliskan obituari kita.
Suatu akhir kehidupan yang kita inginkan. Very interesting.
Di abad serba internet ini obituari tidak lagi bicara tentang masa lalu,
tapi masa depan yang kita inginkan.

Bicara tentang menulis obituari mungkin true story ini bisa memberkati kita.....


HE REDEFINED HIS OWN OBITUARY



Teman-teman pasti sangat akrab dengan nama Dr Alfred Nobel ya...
Yaaa, namanya diabadikan menjadi ajang pemberian penghargaan kepada orang-orang yang berprestasi di bidang kedokteran, keuangan, science, perdamaian, dsb.

Kenyataannya, pada tahun 1888 sebuah koran di Perancis menulis berita  kematian Alfred Nobel dengan headline:   
"THE MERCHANT OF DEATH IS NOW DEAD".

Alfred Nobel adalah penemu dan pemilik hak paten dari DINAMIT, yang pada waktu itu telah memakan korban jiwa yang tidak sedikit dalam ledakan yang ditimbulkannya.
Tentu saja berita tentang kematian yang tidak benar ini dibaca oleh Alfred Nobel yang memang belum RIP. Beliau menyadari bahwa ternyata image tentang 'pedagang maut' sudah melekat dalam dirinya akibat dinamit yang ditemukannya tersebut.
Berita di koran Perancis tersebut bukanlah akhir hidup yang diinginkan oleh Dr Nobel. Julukan sebagai 'pedagang maut' bukanlah gambaran yang diinginkannya untuk dikenang orang sepanjang masa.

Setelah membaca obituari tersebut, Dr Alfred Nobel merasa perlu untuk meredefinisi obituarinya.
Pada tanggal 27 November 1895 Alfred Nobel membuat surat wasiat di Paris yang akan dibacakan pada hari kematiannya (10 Desember 1896).
Isinya? Dr Alfred Nobel mendedikasikan harta yang dimilikinya untuk diberikan kepada orang-orang yang berprestasi diberbagai bidang yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik, bukan kepada kehancuran. Dan redefinisi obituari ini berhasil. Sekarang kalau disebut Alfred Nobel, semua orang akan mengingatnya sebagai pencetus dan pemberi hadiah Nobel. Orang tidak lagi mengkaitkan Alfred Nobel kepada kehancuran dan kematian, tapi perdamaian dan kehidupan.

Teman-teman.... hidup ini singkat.
Pastikan kita mengakhirinya dengan baik.
(Hendaknya orang yang hidup memperhatikannya)

Masih ingat kan cerita.... Ada 2 orang penjahat yang disalibkan di sebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus.
Tapi yang satu mengakhiri hidupnya sebagai orang yang akan bersama-sama Tuhan Yesus di dalam Firdaus. 
(Hendaknya orang yang hidup memperhatikannya)


All blessings,

Julita Manik

1 comment: